Showing posts with label Leisure-Politic. Show all posts
Showing posts with label Leisure-Politic. Show all posts

Tuesday, August 14, 2018

Apakah Saya Percaya Dengan Polling Yang Dilakukan Denny Siregar?

Metode “voluntarily polling” melalui Twitter (hanya ilustrasi) 

Karena masih banyak yang belum faham dengan polling atau survey politik, maka saya akan jelaskan bagaimana cara anda membaca hasil polling yang banyak dilakukan oleh banyak pihak, baik yang dibayar maupun yang dilakukan secara mandiri, simpatisan pro presiden tertentu maupun yang mengaku netral. 

Sengaja saya memakai nama Denny Siregar (tanpa izin), agar anda bisa memahami keterangan saya secara mudah. Karena beliau “selebriti” yang pro Jokowi, sudah pasti dikenal baik yang mendukung Jokowi maupun yang pro Prabowo. 

Saya akan ber-andai andai, lagi lagi supaya anda gampang mengerti:

1.Andaikan, Denny Siregar mengeluarkan hasil polling tertanggal 1 Agustus, 2018 sbb:
Prabowo: 55%
Jokowi: 45% 
Metode survey: pertanyaan yang diajukan melalui Twitter dan Facebook (Fb)

Tanya: Apakah anda percaya?
Jawab: TIDAK
Tanya: loh…. Kan pemenangnya Prabowo? Denny Siregar kan bersebelahan dengan Prabowo. Masa sih kalau pemenangnya Prabowo anda TIDAK percaya? 

2. Denny Siregar, tertanggal 8 Agustus mengeluarkan hasil survey:
Jokowi: 56% 
Prabowo: 44%.
Metode survey: pertanyaan yang diajukan melalui Twitter dan Facebook (Fb).

Tanya: apakah anda percaya?
Jawab: TIDAK.
Tanya: anda aneh…. Kok “tak senang” kalau Jokowi menang? Jangan jangan anda juga “tak menyukai” Denny Siregar! Anda sentimen!

Kenapa saya TIDAK percaya dengan hasil survey 1 dan 2 di atas? Jawaban sederhananya karena METODE survey-nya. Bukan karena saya sentimen sama Denny Siregar. Bukan pula karena saya tidak menyukai Prabowo maupun Jokowi. BUKAN.

Pada survey 1, kebetulan saja PENDUKUNG Prabowo yang lebih banyak ikut, sehingga mereka memilih Prabowo (55%). 

Lah, pada survey 2, Jokowi kok yang menang (56%). Ya, sama saja, pada survey 2, kebetulan saja PENDUKUNG Jokowi yang banyak ikut polling, sehingga mereka pilih Jokowi.

Dalam ilmu statistika, metoda survey yang dilakukan oleh Denny Siregar di atas disebut dengan istilah “Voluntarily polling.” Artinya, mereka yang menjawab pertanyaan survey yang dilakukan oleh Denny Siregar di akun miliknya adalah: 
1.Terbatas pada orang yang bisa meng-akses akun beliau
2.Mereka yang ikut adalah para pendukung Jokowi dan Prabowo yang fanatic.
3.Bisa bisa hanya anak muda yang aktif dukung mendukung pilpres. Tidak menggambarkan pemilih sebenarnya. 

Seandainya metode “Voluntarily polling” ini dilakukan oleh Jonru, HRS atau Ahok atau Hasto Kristiyanto? Ya, sama saja, sayapun TIDAK PERCAYA hasilnya.

Lantas survey atau polling politik yang bagaimana yang saya percaya? Nanti saya jawab di artikel berikutnya….stay tune !!










Friday, August 10, 2018

95% Suara Kemenangan Jokowi Berasal Dari Jateng dan Jatim

Pilpres 2019 (http://jabar.tribunnews.com) 

Saat Pilpres 2014 lalu, Jokowi-JK memperoleh suara 70,63 juta, sedangkan Prabowo-Hatta sebesar 62,3 juta, selisihnya sebesar 8,3 juta suara. Darimana datangnya suara kemenangan 8,3 juta ini? Ternyata suara kemenangan terbesar berasal dari Jateng dan Jatim.    

Jateng menyumbang suara kemenangan sebesar 6,46 juta (12,96 juta – 6,5 juta), sedangkan Jatim menyumbang 1,4 juta suara (11,7 juta – 10,3 juta), total Jateng plus Jatim adalah 7,86 juta suara. Angka ini kalau dibuat dalam persen adalah 95%. Fantastis. 

Jokowi adalah salah satu putra terbaik Jateng, wajar wajar saja beliau menang “telak” di tanah kelahirannya. Masyarakat Jateng sudah mengenal baik beliau sejak lahir, dan selama beliau menjadi walikota Solo. Siapa saja lawan Jokowi, rasanya sangat sulit menaklukkan putra daerah Jateng ini di tanah kelahirannya. 

Dulu, wakil Prabowo adalah Hatta yang tak lain adalah besannya SBY. Meskipun partai Demokrat menyatakan netral, tapi adalah fakta bahwa Gubernur Jatim saat itu, Soekarwo orang Demokrat yang simpati dengan Prabowo-Hatta. Dan salah satu anak SBY adalah tim sukses Prabowo-Hatta yang bertugas memenangkan suara di Jatim. 

Kita tahu hasilnya: masyarakat Jatim-pun melihat sosok Jokowi sebagai etnis yang mewakili mereka. Jokowi menang, meskipun tipis di Jatim. 

Menutup Kekalahan di Jabar
GNPF ulama menilai Jokowi cerdas, karena memilih ulama sebagai wapres (silahkan baca Detik, 9 Agustus, 2018). Ternyata Ma’ruf Amin bukan hanya ketua MUI dan Rais Aam Nadrathul Ulama (NU), tapi juga adalah putra daerah Banten (Kelahiran Tangerang). 

Memilih ulama yang merupakan salah seorang putra terbaik Banten adalah pilihan cerdas sekaligus strategis. Kenapa? Karena Jokowi kalah di Banten dan Jabar tahun 2014 lalu. Rasa rasanya sulit orang Banten dan Jabar akan memilih Prabowo dan Sandi yang “entah siapa” bagi mereka. Masyarakat rasional akan memilih putra daerah terbaiknya! 

Prabowo-Hatta bisa menang di Jabar karena salah satu partai pendukung yaitu PKS, kadernya Aher adalah gubernur Jabar saat itu. Sekarang? Gubernur terpilih adalah simpatisan Jokowi. Survey terakhir menunjukkan Jokowi akan menang di Jabar (silahkan baca Detik, 8 Juni 2018).  

Padahal survey dilakukan jauh sebelum diketahui Ma’ruf Amin sebagai wapres Jokowi. Elektabilitas Jokowi unggul “dua digit” dibandingkan dengan Prabowo. Kalau survey dilakukan saat ini, silahkan anda tebak sendiri hasilnya! 

Pilpres 2019: Ibarat Piala Dunia Sepakbola
Republika, 8 Agustus, 2018 membuat judul: “Prabowo Pilih Sandi, Pengamat: Bisa Jadi Langkah Bunuh Diri.” Karena, tak ada satupun tanda tanda Sandiaga akan bisa merebut suara Jokowi di Jateng dan Jatim. Dengan masuknya Ma’ruf Amin ke kubu Jokowi, rasanya rasanya hampir mustahil Banten dan Jabar bisa dipertahankan Prabowo. 

Ada yang menyamakan Pilpres dengan piala dunia sepakbola, artinya kemenangan baru bisa diketahui ketika pertandingan usai. Tapi dengan fakta dan data di atas, meramalkan Prabowo-Sandiaga menang sama saja meramalkan Maroko atau Senegal juara piala dunia.  

Pilpres 2019 menjadi TIDAK SERU !